And so it is just like you said it would be
Life goes easy on me most of the time
And so it is a shorter story, no love, no glory, No hero in her sky
Can't take my eyes off you, can't take my heart off you, can't take my eyes off you
(Blower's Daughter – Closer's soundtrack)
Film "Closer" cukup membuatku terkagum-kagum berkat pemain-pemain dengan karakter yang kaliber. Siapa yang tak kenal Julia Roberts, Jude Law, Natalie Portman dan Clive Owen (nah, yang terakhir ini mungkin baru saja terkenal berkat King Arthur)? Semuanya membentuk sebuah drama yang berisi relasi yang rumit, naif, jujur, ada kebohongan, ada kekecewaan, ada nafsu, ada kelicikan, ada penis, ada vagina, ada godaan, life acceptance, serendipiti, witty conversation, dan sejumlah pertanyaan. Agak simplistik jika memaknai film Closer dalam satu ungkapan, misal "lelaki adalah penis dan perempuan adalah vagina yang merengkuhnya", atau dengan satu kata seperti: complicated! Aku tak tahu bagaimana secara total memaknai, tapi aku coba melakukannya, sedikit demi sedikit.
Di cover DVD "Closer" aku temukan ini: "If you believe in love at first sight, you will never stop looking". Pertanyaan selanjutnya mungkin ini: jika kamu menemukan satu, apa yang kamu lakukan? Pertanyaan mungkin sebaiknya berlanjut seperti ini: Apakah tetap akan mencari atau akan berhenti di situ? Aku lebih cenderung menjadi "naturalis" dalam hal ini. Memilih untuk terus mendapatkan "cinta pada pandangan pertama" tentunya sebuah pilihan juga. Jadi pilihlah itu, supaya kita tidak kehilangan prinsip. Entah dimaknai mengagumkan atau memuakkan, tentunya orang bebas memilih itu. Dan, yang aku lihat dari film ini, semua memang bersumber dari "cinta" pada pandangan pertama. Tapi, kurasa bukan sebuah cinta yang ada di situ. Yang ada hanya gairah atau passion. Yang ada juga delikasi sebuah hubungan antarindividu, yang di kemudian hari jadi sebuah benang kusut dan perang keinginan.
Daniel (JL) "menggunakan" Alice (NP) untuk sekedar meng-updgrade dari seorang kolumnis obituari menjadi seorang novelis yang laris dalam 1 - 2 tahun. Di tengah pemotretan profil untuk bukunya, Daniel mencium Anna (JR), fotografer, di pertemuan pertama. Keduanya totally stranger. Keduanya sama-sama belum pernah mencium stranger: pengalaman pertama yang berkesan tentunya. Anna tak bisa lupa, Daniel merasa jatuh cinta. Alice mengetahui aroma tak nyaman antara Daniel dan Anna. Alice tahu bahwa Daniel tak lagi mencintainya. Daniel ingin memiliki Anna. Tapi sebagai divorcee yang masih segar, Anna tak ingin berbuat kesalahan dengan mengambil pacar orang. Anna hanya menyimpan saja. Daniel sungguh tak sabar, dan mempermainkan Anna dengan mempertemukan Anna dengan Larry (CO), seorang dokter dermatologi--lewat sebuah sex-chatroom. Anna cocok dengan Larry, dan mereka menikah. Di ekshibisi foto Anna, komplikasi mulai terjadi. Anna dan Daniel membentuk hubungan (menjadi secret lovers), demikian juga Larry dan Alice.
Di akhir cerita, Anna kembali kepada Larry setelah melewati masa berlarut-larut dalam proses perceraian. Larry masih sungguh mencintai Anna, sedangkan Anna masih mencintai Daniel. Larry hanya mau menandatangani surat cerai jika Anna mau diajak bercinta (untuk terakhir kalinya) di ruang praktek baru Larry. Anna menyetujui. Namun yang terjadi adalah bahwa Anna jadi attach kembali dengan Larry. Alice kembali ke Amerika setelah tahu bahwa Daniel tidak mempercayainya. Daniel tinggal sendiri, berjalan seperti biasa ke kantor menjadi editor kolom obituari, dan tetap menjadi novelis yang gagal. Daniel tak menemukan lagi "cinta" di kerumunan London, yang dia temukan hanyalah ini: Alice bukan nama asli pacarnya selama ini. "Alice" dengan santai berjalan di kerumunan New York City, menuju 47th Street.
Beberapa skrip mungkin bisa memperlihatkan bagaimana cinta itu dimaknai dalam Closer:
Anna: Dont stop loving me. I can see it draining out of you. It meant nothing. If you love me, you'll forgive me.
Daniel: What's so great about the truth? Try lying for a change -- it's the currency of the world.
Alice: Where is this 'love'? I can't see it, I can't touch it, I can't feel it. I can hear it. I can hear some words. But I can't do anything with your easy words.
Larry: You don't know the first thing about love because you don't understand compromise.
***
Sinopsis film sungguh mudah, yang sulit adalah memaknai cerita. Aku akan menyarikan beberapa line untuk mencari sesuatu yang subtil:
- Hello, stranger
It happens all the time. Dan setiap orang yang kita sukai, kita cintai, awalnya adalah stranger. Ketika itu kita sebenarnya melakukan sesuatu yang ordinari.
- Love is an accident waiting to happen
Cinta mungkin adalah kecelakaan. Oleh karena itu cinta memerlukan korban. Dan korban selalu berguguran setiap hari. Cinta adalah keniscayaan jika memang demikian. Atau sebuah dilema: can't live with or without it.
- Desire is a stranger you think you know
Kita selalu memiliki desire atau keinginan hebat, katakanlah gairah juga. Tapi kita terlalu dini untuk mengatakan bahwa kita mengenalnya seperti 1 tahun, padahal baru sekian detik lalu kita merasakan. Kadang kita tidak jujur kepada diri sendiri. Tapi tanpa desire, hidup jadi hambar, tanpa harapan, tanpa keingintahuan.
- Intimacy is a lie, we tell ourselves.
Keintiman adalah kenyataan yang diciptakan dengan atau tanpa berbohong. Aku pernah melakukannya, mungkin juga anda.
- Truth is a game, you play to win.
Kebenaran, entah itu disampaikan dengan santun atau emosional, kadang juga menyakitkan. Apakah kebenaran juga permainan? Jika relatif, maka iya.
- Women don't know territory, cause they are territory.
Perempuan adalah wilayah (ini sangat timpang menurutku). Lelaki adalah serdadu yang berperang di dalamnya, itu umumnya. Dan kita (lelaki) mulai melakukan ini: bahwa selama ini kita berperang, bertengkar, mempertahankan diri, semata-mata karena perempuan. Perempuan dianggap pasif. Tapi dalam film ini, lelaki dan perempuan adalah wilayah sekaligus serdadu. Sama saja.
Posted at 07:32 pm by ayudhanto
Bagi aku yang muslim, Waisak bermakna hari raya "agama lain". Pencarian atau pencerahan yang minim mengenai Buddha membuat aku agak ignorant terhadap Waisak. Tapi, pada tahun 1998, kejadian unik di lapangan basket ITB membuatku selalu ingat dengan "agama lain" itu: satu kejadian lucu dan satu statement yang mengejutkan.
1
ITB sepi sekali. Siang itu aku dan seorang teman duduk di tepian lapangan basket. Bukan menunggu giliran lempar bola ke keranjang, tapi lebih parah: menikmati Gudang Garam ... pufff. Dari kejauhan terlihat seseorang yang sepertinya kukenal. Dia naik sepeda di jalan yang agak menanjak: kelihatan lelah dan terburu-buru. Aku kenal pemuda ini; penampilannya selalu necis lengkap dengan kemeja, celana bahan dan pantofel; tasnya selalu penuh buku dan wajahnya serius (plus melongo tanda curious). Aku segera berdiri, memotong dan menyapanya. Dia segera berhenti dan menyeka keringat yang bercucuran (sak jagung-jagung). Kami pun berdialog:
Aku: "Lu ngapain ke kampus?"
Teman: "Mau kuliah. Kenapa?
A: "Ye. Sekarang kan hari libur... !
T: "Ha? Emang libur apaan?"
A: "Ah lu masa gak tahu wong tanggal merah kok!"
T: "Hah?? Tanggal merah? Ah boong ah. Di kalendar gua tanggalnya gak merah!"
A: "Tanggalan tahun berapa tu??" :)
Aku melanjutkan: "Eh emang lu agama apa?"
T: "Buddha. Kenapa?"
A: "Bwahahahahaha ... sekarang hari Waisak!"
T: "Haaaa masa sih?????"
Temanku itu segera berbalik, dan bersepeda kencang menuruni jalan. Oh Waisak ...
2
Setelah kejadian itu, aku lumayan berminat untuk mengerti tentang Buddha dan ajaran-ajarannya. Teman di kos juga ada yang giat sekali berbicara tentang Buddha meski dia muslim. Dia mengambil kuliah Etika Buddha untuk itu. Ah, tapi aku skeptis, dia pasti mengambil kuliah itu agar dapat nilai A. Eh, ternyata aku salah, dia bisa menjelaskan panjang lebar mengenai Buddha (setelah 14 minggu bertapa di kelas yang diajar perempuan berkostum jawa - lengkap dengan sanggul dan jarik).
Aku tak ingin ketinggalan. Untuk mengerti Buddha, aku segera mencari "tangan pertama". Aku ingat temanku yang lupa hari Waisak itu. Aku segera mencarinya dan mendapati dia sedang tergesa pulang. Tanpa tedeng aling-aling aku langsung mencegatnya: Eh aku mau nanya-nanya tentang Buddha! Dia menoleh: Wah boleh-boleh! Sekitar 30 menit kami berdiri di pinggir jalan dan membahas Buddha dengan antusias yang kelewatan. Dan, di akhir percakapan, aku berusaha menyimpulkan dengan acak-acakan: Jadi, apakah Buddha itu agama? Temanku itu tersenyum: Bukan. Buddha itu lebih pada etika. Di detik itu, aku ganti menganga: "Haaaa masa sih????"
***
Itu pertemuan terakhirku dengannya: dia pergi, meninggalkan aku dan teman-teman seangkatan; menghilang dari peredaran sejak tahun 1998. Ah temanku itu: bebas nilai sekali ...
..:: Selamat HARI WAISAK buat teman-temanku yang merayakannya pada 22 Mei 2005 ::..
Posted at 11:40 pm by ayudhanto