Singapura dalam pemikiranku mirip sebuah paradoks yang akut: di tengah ramai d an majunya pelayanan publik, manajemen keuangan, sistem informasi, bioteknologi dan pelayanan medik tersimpan pelbagai masalah sosial, budaya, identitas dan ekonomi. Negeri ini tersenyum dengan pendapatan jutaan dolar lewat wisata, bisnis dan investasi, ketika sebagian besar masyarakatnya terpasung dan murung akibat CPF (pajak pendapatan) dan HDB (rumah susun). Progresif, resah, hura-hura artifisial, paradigma westernisasi dan "kiasu" (sikap takut kalah) menjadi sikap keseharian yang mudah diamati sekaligus diadopsi. Di balik itu, aku adalah atom bebas yang merasakan pragmatisme Singapura lewat sistem pendidikannya; kultur mungkin masih Asia, tapi perilaku dan visi riset benar-benar mengadopsi barat baik secara tergesa maupun hati-hati. Estetika, etika, nilai, makna mungkin sudah tergantikan dengan popularitas, pragmatisme, kebebasan yang menyisakan perihnya friksi dalam komunitas campuran seperti Singapura. Hari-hariku mungkin monoton dan menjemukan, tapi aku masih menyisakan energi untuk menuliskan Singapura lewat kacamata yang gelisah (seperti halnya sebagian plot dalam novel Fira Basuki).
Seorang teman baik kukenal di Singapura selama setahun. Aku tulis sebuah esai di hari ultahnya. Beberapa paragraf dari esai itu menceritakan Singapura. Tidak representatif untuk reportase ilmiah, tapi cukup membuat sadar dan ikut resah :)
Singapura: tak cukup seminggu untuk mengitarinya meski negeri ini cuma seluas kira-kira 690 km2. Dengan begitu banyak tempat indah (namun homogen), Singapura ramai dikunjungi orang walau setiap tempat hanya akan menyuguhkan suasana kota—yang teratur dan bersih.
Pada 1818, ketika Sir Stamford Raffles pertama kali menginjakkan kakinya di Temasek (sea port) ini, dia mungkin tahu bahwa secuil tanah ini begitu mempesona sehingga produk-produk asing tertanam subur di sini. "Singlish" (singapore-english) menjadi sebuah ikon hasil destilasi Inggris-Malay-Hokkien. Sebuah cita-cita menjadi melting pot seperti Amerika mungkin bukan ilusi ketika melihat negeri ini tumbuh dengan banyak ras. Perkembangan ekonomi yang pesat dikendalikan oleh pemerintah yang bersih dan “agak” tangan besi—mungkin ini manifestasi sosialis-demokratik yang dimimpikan Lenin (namun tanpa baju militer). Hikayat Abdullah (Abdullah bin Kadir) tahun 1849 dan The Golden Chersonese (Isabella Bird) tahun 1879 barangkali adalah karya-karya otentik yang bisa mendeskprisikan cikal bakal negeri ini. Tapi sajak karya Lee Tzu Pheng My Country and My People cukup representatif untuk sebuah deskripsi singkat:
...
My country and my people
I never understood
I grew up in China’s mighty shadow,
with my gentle, brown-skinned neighbours;
but I keep diaries in English.
I sought to grow in humanity’s rich soil,
and started digging on the banks, then saw
life carrying my friends downstream.
...
Lee Tzu Pheng mungkin seorang sastrawan yang gelisah dengan kemajuan. Dia pun tak ingin tumbuh di negeri ini. Di negeri yang, tak tehindarkan, penuh prasangka rasis, dia terus mencari rasa kemanusiaan di setiap sudut. Dia terus mencari di tengah-tengah kaumnya sendiri. Namun, dia tak menemukan apa yang dicari. Negeri ini kehilangan rasa kemanusiaan. Nietzsche mungkin benar: “Negara adalah monster yang terdingin hatinya dibanding semua monster, dan dengan hati dingin pula ia berjusta”; monster ini secara perlahan menggerogoti sisi kemanusiaan kita.
Hidup di Singapura berarti hidup dalam semangkuk sup yang mewah. Keindahan, sikap elegan, kenikmatan lewat dengan cepat dan sekejap. Tak pernah dinanti, sikap resah pun hadir di tengah hiruk pikuk negeri ini. Negeri ini tak menarik bagi orientalis karena sudah tak ber-kultur lagi. Negeri ini sudah masif dan enggan berubah dari keteraturan yang sempurna. Tak bisa mengharapkan sebuah chaos yang bisa membawa ke perubahan alami. Negeri ini sudah maju. Barat berhasil menjadikannya koloni modernitas tanpa susah payah. Negeri ini adalah mekanisme—seperti sebuah rumah yang dimaknai oleh Le Corbusier: sebuah mesin.
Posted at 12:16 pm by ayudhanto