Bondowoso adalah sebuah kota kecil di Jawa Timur. Ada yang bilang Bondowoso adalah kota mati, kota pensiunan, kota tanpa polusi, kota tape, kota termiskin di Jatim; tapi aku bilang, Bondowoso adalah sebuah kota yang tepat untuk berlibur dan berkontemplasi. Kota ini diapit dua gunung: G. Raung (3332 mdpl) dan G. Argopuro (3000 mdpl). Masyarakatnya mayoritas berbahasa Madura dan sebagian Jawa. Keramaian hanya terpusat di alun-alun kota. Pertokoan, atau kita menyebutnya Pecinan, hanya dibentuk oleh satu blok. Mayoritas penduduknya adalah petani dan pedagang; sebagian lain: pegawai negeri. Hasil bumi hanyalah ketela pohon, tebu (pabrik gula Prajekan), beras, tembakau, kelapa dan kopi. Bondowoso tidak memiliki kebun teh meski jalur menuju Besuki iklimnya cocok (Bondowoso berada di 500 mdpl). Tape adalah makanan khas Bondowoso yang aku ingat ketika kecil aku sama sekali tidak suka memakannya karena terlampau panas di perutku.
Sungai yang melintasi Bondowoso adalah Sampeyan Baru. Kegiatan budaya aslinya adalah aduan sapi yang biasanya dilakukan di dekat dam Sampeyan Baru. Kota ini juga merupakan basis pesantren tradisional asuhan Nahdlatul Ulama (NU). Majid jami' At Taqwa senantiasa memberikan warna yang khas ketika Ramadhan dan Hari Raya tiba. Kesadaran politik tidak banyak berkembang di kota ini karena secara struktural Bondowoso memiliki pengaruh yang kecil di Jatim. Kesadaran akan politik dan ilmu pengetahuan kurang terasah karena kota ini tidak memiliki universitas yang maju.
Secara etnografis, Bondowoso tidak menarik. Budaya yang dimiliki Bondowoso, meskipun hanya sebuah kota kecil, sudah campur aduk. Dengan kata lain, Bondowoso tidak memiliki keaslian budaya. Budaya campuran Jawa dan Madura serta sedikit Timur Tengah (karena bawaan budaya Islam) jadi sebuah sinkretisme yang menghilangkan identitas budaya. Madura enggak, Jawa enggak, Arab juga enggak: seperti the lost culture. Oleh karenanya, Clifford Geertz# tidak mampir ke Bondowoso hehehe.
# Clifford Geertz, etnografer dari Harvard, penulis Religions of Java, Negara Teater, dll yang menghabiskan waktu risetnya di Kediri, Bali dan Maroko.
***
Ketika garis tanganku membawa aku ke kota-kota yang lebih besar, Bondowoso menjadi sebuah "desa" bagiku. Namun, desa ini tetap menjadi kota asal (heometown) yang setia, yang pernah dinamis ketika aku kecil, yang pernah memperkaya aku dengan teman-teman baik & lucu, guru-guru yang sederhana tapi berdedikasi tinggi, masyarakat yang ramah dan suasana yang bersih. Di sini aku merasakan asyiknya mandi di sungai, belajar bahasa madura dengan intens, bersepeda 125 km dalam 12 jam, ikut karnaval setiap 17-an, ikut pramuka di hari minggu, naik becak setiap hari (malah pernah nyetir becak :p), belajar memainkan organ, menghafal tabel perkalian dan butir-butir Pancasila (shit happened when I was kid ... hehe), menyukai beberapa gadis manis, belajar nyetir mobil di lapangan becek, mendaki Kawah Ijen, Raung, menikmati sengatan matahari di pantai Pasir Putih, merasakan nikmatnya sate "laler" (saking kecil-kecilnya daging ayam sampai-sampai dibilang seukuran 'laler' atau lalat), membaca ratusan komik, menikmati buku pintar, sejarah Mesir dan Romawi, belajar mengaji, menggandrungi sepak bola, dan kehilangan seorang teman sebangku ketika SMP (jenazahnya ditemukan 1.5 bulan kemudian dengan hanya satu kaki; kepala, tangan, badan, kaki kanan hilang terbawa arus sungai).
***
Kami sebenarnya juga pendatang di kota ini, tapi kami merasakan kehangatan dan sikap "welcome" Bondowoso terhadap kami. Tahun 1999 akhirnya orang tuaku memutuskan untuk menetap di Bondowoso setelah ditugaskan berpindah-pindah; kandidat lain seperti Jember dan Blitar sepertinya tidak sehangat Bondowoso. Benar juga, kota ini memang kota untuk pensiun. Dan setiap tahun di musim liburan, untuk beberapa waktu, aku menghirup hawa Bondowoso di pagi hari yang menyegarkan ^_^