Arief Yudhanto
di bilangan The Village
Pasir Panjang Rd., Singapore


Life is a tiny space where we spend most of the time alone and do this kind of things: thinking, acting, making mistake, reconciliating, meeting various people, learning many things in pragmatic and aesthetic way ... just to obtain and preserve identity ...
   


I have a dream of visiting 1000 places: it's definitely possible for the purpose it carries.

Age is counted by the places and experiences you have been through.


Archives

Di Hari Waisak
Cerai
JIL
Bondowoso
Singapura




rss feed



Tuesday, May 10, 2005
C E R A I

1

 

Cerai, sebuah kata yang mengandung kengerian dan ketakutan: ada nyeri di hati, ada luka di kepala, dan ada monumen yang terbentuk di pelupuk. Ada yang bilang: separasi dan pembaruan. Ada yang nyeletuk: jalan keluar yang halal. Ada yang bermimpi: cerai bukan milik manusia. Tuhan tak suka tapi menghalalkan—karena Dia pikir itu kontekstual dan berakhir dengan fifty-fifty. Dua kutub akan saling melengkapi—dua orang akan menyumbang perbedaan yang berwarna. Ini adalah kemajuan yang tak dipuji. Mungkin tetaplah sebuah antitesis.

 

Ketika Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu, ketika Tembok Berlin bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dijebol dengan godam yang brutal, semua berbahagia. Komunisme telah runtuh. Kapitalisme berjaya di Eropa. Pasar merajalela dan semua hendak berpaham seragam. Tak ada lagi Marxisme dan Leninisme. Tak ada lagi Das Kapital yang beredar. Di-“cerai”-kan suatu paham, sebenarnya, bukanlah hal yang agung untuk ditangisi.

 

Begitu juga jika masa rekonsiliasi atau rujuk telah tiba. Semua dimulai dengan masalah baru. Lebih kompleks malahan. Bersatu berarti membagi problematik yang belum tentu terselesaikan dalam waktu singkat. Cerai dalam istilah politik bisa berarti: kita lebih independen menentukan penyelesaian masalah. Tanpa pengaruh yang berasal dari luar. Dan kita tetap punya Tuhan sebagai psikolog dan teman diskusi yang secara rohani memberi semangat untuk survive.

 

Di meja makan itu, ibu temanku—yang tetap memiliki ketegaran hidup dan semangat yang menyala di usia 50—bercerita tentang “cerai”. Dia berkisah: semua dimulai dengan perkenalan, pacaran bertahun-tahun, toleransi, pernikahan, dan tinggal berpindah-pindah. Ada yang ganjil di sana: keluarga yang berlangsung utuh dan harmoni bisa memicu kebosanan yang dahsyat. Ada semacam kebisuan dan kekakuan dalam sesuatu yang utuh dan harmoni. Pilar-pilar di Roma, batuan Stonehenge, arus laut di West Coast: semua harmoni dan utuh hingga kini. Bukankah itu semua mengandung kebisuan dan kekakuan? 

 

Namun, dia tetaplah seorang ibu dari tiga anak yang aktif. Dia mungkin asertif untuk orang seusianya. Tapi, dia juga memiliki kerinduan akan perbincangan yang hangat dan kelengkapan foto keluarga. Aku mendengarkan tanpa menyela, kecuali mengangguk dan berupaya untuk paham.

 

Ibu temanku itu—yang tanpa sadar bahwa dapurnya cukup besar untuk sepak takraw dan cukup bersih untuk sembahyang—mungkin adalah ibu yang cukup berani mengambil sisi. Sisi yang-berbeda dan yang-tak-absurd. Yang berbeda: seperti beda agama dan beda karakter. Yang tak absurd: pragmatis, dominan, dan logik. Kadang aku lupa, bahwa yang berbicara barusan adalah sisi perempuan yang biasanya penuh perasaan dan bertele-tele. Sisi itu kadang hilang dan tersiram gaya bicara yang terbuka. Ada hegemoni dalam percakapan kami: ibu itu menjadi source yang ramai. Aku adalah sink dalam fluida yang mengalir. Aku memahami meski termasuk freshman dalam membicarakan “cerai”. Aku mengatakan dengan jujur bahwa aku tak bisa membayangkan jika keluargaku mengalami hal itu. Dia mengerti, aku tahu itu. Tapi dia segera beralih ke tema yang berbeda. Dia memang seorang teman bicara yang cepat dan diskrit.

 

Cerai mungkin adalah pilihan. Sepihak atau mendadak itu tak soal. Ketika Kurusetra dalam Mahabharata tak lagi mencerminkan medan laga yang masyhur dan berdarah, pembaca memilih bercerai dari epik itu. Ketika penindasan militer mulai terjadi 1974, Timor Timur memilih bercerai dengan Indonesia yang korup tak kepalang di rezim Habibie. Ketika manager Pizza Hut Indonesia cukup hebat di bidang makanan-cepat-saji, dia memilih bercerai dengannya dan mendirikan Papa Ron’s. Siapa sangka perceraian membawa kebuntungan? Siapa bilang perceraian bukan pilihan? Namun—setelah perceraian terjadi—siapa yang bilang bahwa harmoni dan kehangatan menjadi menu yang mudah disantap setiap hari?

 

Korban selalu ada. Dan biasanya sang korban tak punya adrenalin yang cukup untuk berkorban atau dikorbankan. Sang korban lebih memilih mengambil sisi dan mempersiapkan antibodi yang secara inheren disemaikan agar perceraian tak terulang. Alternatif ketiga dipersiapkan untuk masa depan yang lebih baik. Mungkin tanpa kekakuan dan harmoni. Tapi berbekal keyakinan dan kesabaran dalam menjalani hidup yang kian tak bersahabat. Ada sesuatu yang genap di sana: anak-anak tetaplah punya orangtua, meski tak lagi seatap dan sebilik. Anak-anak tetap mampu mengikat dirinya dengan rasa persaudaraan yang hangat. Sebuah fraternity yang polos—yang tak mampu dipisah apapun selain kematian dari Tuhan.

 

2

 

Variety of life begins”, aku menuliskannya di buku Kalkulus yang mulai membulak dan penuh coretan tangan. Pada 1997 itu, aku tak paham dengan tulisanku sendiri. Barangkali aku hanya berharap dengan cemas. Mungkin sedikit optimis berkat identitas yang lumayan. Aku merasa hampa dengan variety. Keberagaman hidup: cinta, benci, menang, kalah, Barat, Timur, kuno, modern, nikah, cerai. Keberagaman dalam Kalkulus yang hebat diisi oleh matematikawan Barat. Kenapa selalu Barat? Ada Euler di Swiss. Ada Kovalevsky di Rusia. Ada Weierstrass di Jerman. Ada Newton di Inggris. Ada Gauss di Jerman, lagi. Kenapa tak di Timur saja? Atau di Jawa? Atau di Yogya? Atau di Surabaya?

 

Cerai identik dengan ‘benci’ di awal. Dan ‘life-must-go-on’ di akhir. Satu dari keberagaman disarikan: benci. Rasa benci yang bersifat individual sudah cukup berbahaya, apalagi yang bersifat kolektif. Dari rasa benci yang kolektif, anak-anak sekolah di Israel bertepuk untuk Baruch Goldstein yang Yahudi—Goldstein membantai 50 orang Palestina di satu pagi. Di Australia, imigran Yunani—yang menamakan diri orang Macedonia—membakar gereja imigran Balkan. Di medan pertempuran, 20 ribu manusia mati ketika jenderal memerintahkan perang. Untuk apa? “Untuk sepotong tanah yang tak berharga, kecuali namanya.” Ini lucu tapi tragis: 400 tahun yang lalu dan 400 tahun kemudian, kita tahu Shakespeare berkata “Manusia bersedia saling menyakiti untuk hal-hal aneh”. Manusia mungkin memang butuh benci dan kemarahan. Benci dan kemarahan menjadi halal karena dirumuskan tak hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk kepentingan bersama.

 

 

Life-must-go-on didengungkan kemudian. Mungkin dilakukan sendirian. Mungkin dilakukan bersama. Oh, bersama. Sebuah kata lagi. Ada sesuatu yang pejal dan tegar dalam ‘bersama’. Sebuah fenomena yang terlalu Jawa dan sedikit komunal—komunis juga. Hidup harus terus berlangsung, sendiri atau bersama. Tak bisakah keduanya dilakukan? Bisa. Jika saya boleh menyarankan: katakan “sendiri” dengan nada halus dan khidmat, dan katakan “bersama” dengan nada yang lantang dan tegas. “Sendiri” tak terlalu diterima di Jawa. Sedangkan, “bersama” menjadi jargon Jawa yang dalam buku Clifford Geertz—Religion of Java—menjadi tulang punggung yang absolut. Geertz—orang Harvard yang memberikan penggolongan yang aneh tentang agama-agama Jawa—adalah individual sejati. Dia penulis yang selalu sendirian merumuskan teori-teori antropologi. Buku itu begitu berpengaruh di dunia antropologi posmodern. Tapi janganlah takut, dia adalah penulis cerdas yang selalu punya paradoks dalam kenyataannya: dia adalah individu yang merindukan kehidupan komunal—jika saya boleh berpendapat.

 

3

 

Di Surabaya yang lembab dan pekat, berkat hujan di pagi buta, rasa sakit muncul di pintu depan. Sakit yang mengguyur hati temanku itu. Aku menghitung kata ‘sakit’ dalam tulisannya: dalam tulisan 1.5 halaman itu ada delapan kata sakit—dalam 1 paragraf. Ini emosional menurutku—masalah wanita yang benar-benar pelik. Sakit berawal dari ketahanan yang kurang atau ketaksanggupan menanggung beban. Sakit juga reaksi alami yang digunakan untuk melupakan rasa ketaksanggupan. Sakit mendorong manusia menjadi terkulai tak berdaya. Sakit mendorong manusia untuk memberontak. Dengan sedikit sembrono dan acak-acakan, manusia melepaskan sakit dengan menantang hidup. (maaf, aku menulis 9 kata ‘sakit’ dalam satu paragraf).

 

 

Tangis mampu memberikan anestesi untuk rasa sakit. Pati rasa yang hambar dan menghabiskan air garam dari tubuh. Disertai motivasi diri untuk optimis, tangis tetap terjadi meski perlahan dan menghentak lambat. Tangis juga alami. Tangis ada di suasana sedih dan bahagia. Tangis banyak dilihat dalam kisah Oskar Schindler yang humanis. Dalam Schindler’s List, 1100 Yahudi diselamatkan dari tentara Nazi yang siap membawa mereka ke kamar gas. Tangis juga ada dalam kemenangan tim bulutangkis Indonesia ketika Alan Budikusuma dan Susi Susanti meraih emas. O, tangis. Hitler juga menangis ketika ribuan tentaranya mati di Rusia selatan yang dingin.

 

Cerai adalah fenomena yang tepat untuk sakit dan tangis. Dengan dingin dan sabar, kita tak akan berlama-lama membahasnya. Inipun akan menimbulkan kesalahan yang relatif emosional. Aku teringat dengan tulisan temanku—meski dalam konteks yang tidak serupa, tapi dianggap cukup representatif. Dia menulis: So I guess..another thing we need in a relationship is time. Time to learn one another, time to spend time together, time to see what’s going to happen next. Aku rasa, dia sadar bahwa ia tak sekadar menulis untuk suatu kejadian yang bahagia saja. Dia menuliskannya untuk memberikan harapan ketika kesakitan dan perceraian itu tiba. Mungkin dia tetap mengharapkan “waktu untuk saling belajar, waktu untuk dihabiskan bersama, waktu untuk melihat apa yang bakal terjadi kemudian”. O, waktu, ke mana dirimu ketika perceraian itu belum terjadi? Manusia memang membutuhkan keanehan di setiap harinya, di tempat ia merenung dan bertindak, di kala hati yang resah mendadak terserang ego yang ekstraordinari.    

 

 

 

 


Posted at 12:27 am by ayudhanto

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry