Bagi aku yang muslim, Waisak bermakna hari raya "agama lain". Pencarian atau pencerahan yang minim mengenai Buddha membuat aku agak ignorant terhadap Waisak. Tapi, pada tahun 1998, kejadian unik di lapangan basket ITB membuatku selalu ingat dengan "agama lain" itu: satu kejadian lucu dan satu statement yang mengejutkan.
1
ITB sepi sekali. Siang itu aku dan seorang teman duduk di tepian lapangan basket. Bukan menunggu giliran lempar bola ke keranjang, tapi lebih parah: menikmati Gudang Garam ... pufff. Dari kejauhan terlihat seseorang yang sepertinya kukenal. Dia naik sepeda di jalan yang agak menanjak: kelihatan lelah dan terburu-buru. Aku kenal pemuda ini; penampilannya selalu necis lengkap dengan kemeja, celana bahan dan pantofel; tasnya selalu penuh buku dan wajahnya serius (plus melongo tanda curious). Aku segera berdiri, memotong dan menyapanya. Dia segera berhenti dan menyeka keringat yang bercucuran (sak jagung-jagung). Kami pun berdialog:
Aku: "Lu ngapain ke kampus?"
Teman: "Mau kuliah. Kenapa?
A: "Ye. Sekarang kan hari libur... !
T: "Ha? Emang libur apaan?"
A: "Ah lu masa gak tahu wong tanggal merah kok!"
T: "Hah?? Tanggal merah? Ah boong ah. Di kalendar gua tanggalnya gak merah!"
A: "Tanggalan tahun berapa tu??" :)
Aku melanjutkan: "Eh emang lu agama apa?"
T: "Buddha. Kenapa?"
A: "Bwahahahahaha ... sekarang hari Waisak!"
T: "Haaaa masa sih?????"
Temanku itu segera berbalik, dan bersepeda kencang menuruni jalan. Oh Waisak ...
2
Setelah kejadian itu, aku lumayan berminat untuk mengerti tentang Buddha dan ajaran-ajarannya. Teman di kos juga ada yang giat sekali berbicara tentang Buddha meski dia muslim. Dia mengambil kuliah Etika Buddha untuk itu. Ah, tapi aku skeptis, dia pasti mengambil kuliah itu agar dapat nilai A. Eh, ternyata aku salah, dia bisa menjelaskan panjang lebar mengenai Buddha (setelah 14 minggu bertapa di kelas yang diajar perempuan berkostum jawa - lengkap dengan sanggul dan jarik).
Aku tak ingin ketinggalan. Untuk mengerti Buddha, aku segera mencari "tangan pertama". Aku ingat temanku yang lupa hari Waisak itu. Aku segera mencarinya dan mendapati dia sedang tergesa pulang. Tanpa tedeng aling-aling aku langsung mencegatnya: Eh aku mau nanya-nanya tentang Buddha! Dia menoleh: Wah boleh-boleh! Sekitar 30 menit kami berdiri di pinggir jalan dan membahas Buddha dengan antusias yang kelewatan. Dan, di akhir percakapan, aku berusaha menyimpulkan dengan acak-acakan: Jadi, apakah Buddha itu agama? Temanku itu tersenyum: Bukan. Buddha itu lebih pada etika. Di detik itu, aku ganti menganga: "Haaaa masa sih????"
***
Itu pertemuan terakhirku dengannya: dia pergi, meninggalkan aku dan teman-teman seangkatan; menghilang dari peredaran sejak tahun 1998. Ah temanku itu: bebas nilai sekali ...
..:: Selamat HARI WAISAK buat teman-temanku yang merayakannya pada 22 Mei 2005 ::..
Posted at 11:40 pm by ayudhanto